Desa
Duwet Krajan merupakan desa yang terletak di kaki Gunung Tengger. Desa ini
terbagi atas tiga dusun yaitu Dusun Swaru, Dusun Krajan, dan Dusun Tosari.
Secara gepgrafis desa Duwet Krajan berbatasan dengan Taman Nasional Bromo
Tengger Semeru di sebelah Timur, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Poncokusumo,
disebelah Barat berbatasan dengan Desa Tulus Besar Kecamatan Tumpang, dan
Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Duwet Kecamatan Tumpang.
Desa
Duwet Krajan tidak memiliki suatu bukti sejarah secara tertulis seperti
dokumen, catatan, ataupun prasasti yang menyatakan kapan berdirinya Desa Duwet
Krajan. Akan tetapi Desa Duwet Krajan mempunyai tradisi lisan mengenai
bagaimana desa terbentuk oleh para pendiri desa (babat desa). Menurut cerita
tutur masyarakat Dusun Swaru didirikan oleh dua orang kakak beradik yang
berasal dari kerajaan Mataram Islam. Dua orang pendiri tersebut bernama Radiman
yang lebih dikenal oleh orang desa dengan panggilan Buyut Radiman dan adiknya
bernama Mustam atau biasa dikenal dengan sebutan Buyut Mijah (Karan Anak).
Menurut analisa menggunakan perhitungan umur keturununannya (Buyut) yaitu
menghitung jumlah selisi jarak antara anak yang satu dengan kakaknya berjarak
tiga tahun maka didapatkan angka tahun berdirinya Dusun Swaru pada sekitar taun
1830 dimana ini selaras dengan tahun dimana ada Perang Diponegoro pada tahun
1925-1930 dan dari sumber lisan bahwa kedua tokoh tersebut berasal dari
Kerajaan Mataram Islam.
Kedua
tokoh pendiri tersebut merupakan orang yang berjasa atas berdirinya Dusun
Swaru. Dalam sejarah ini menggunakan analisis Toponimi yang konon penamaan
dusun Swaru disebabkaan dari sebuah perjalanan Buyut Radiman dan buyut Mijah
dimana kedua tokoh tersebut sedang merasa lelah dan memilih beristirahat di
bawah pohon waru dan duduk beralaskan daun waru. Kemudian tempat itu dibuka
untuk pemukiman dan dikenal dengan Puncak
e Waru. Setelah itu Buyut Radiman berkata kepada Buyut Mustam dengan bahasa
jawa “Kowe terusno mbukak elor kae, aku
tak nerusno ning kidul (Bantur), kono
kuwi ketoke lerem hiyo lek anak putune awake dewe mbesok koyo awake dewe (Berilmu
dan sakti). Atau dalam bahasa Indonesa “Kamu teruskan membuka sebelah utara
itu, saya akan melanjutkan yang sebelah selatan (Bantur), disana itu
kelihatannya enak kalau anak cucu kita besok seperti kita”. Sehingga Buyut
Mustam meneruskan membuka lahan di bukit sebelah utara yaitu Dusun Swaru
sedangkan Buyut Radiman meneruskan wilayah selatan Bantur.
Sumber: Sukiono. Duwet Krajan Tumpang, Malang. (online). https://id.m.wikipedia.org/wiki/Duwet_Krajan_Tumpang_Malang
diakses pada 23 Juni 2019






0 komentar:
Posting Komentar